Indonesia sedang memasuki era penduduk menua (aging population), dimana 12% dari total penduduk sudah lanjut usia (berusia di atas 60 tahun) pada tahun 2023, dan pada tahun 2045 diperkirakan jika satu dari lima orang adalah usia lanjut (lansia). Penuaan adalah proses alami yang memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh, seperti :
- Otot yang melemah, massa tulang berkurang, dan massa lemak meningkat
- Fungsi penglihatan dan pendengaran menurun
- Daya tahan tubuh melemah
- Fungsi otak dan kecepatan berpikir melambat
- Kualitas dan kuantitas tidur terganggu
Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi lansia yang tinggi masih memiliki berbagai tantangan, meliputi:
- Akses layanan geriatri yang masih terbatas
- Kurangnya tenaga kesehatan terlatih di bidang geriatri
- Minimnya edukasi keluarga mengenai perawatan lansia
- Stigma bahwa penurunan fungsi diatas adalah “hal biasa” dan tidak perlu ditangani
Peningkatan jumlah lansia ini kemudian membawa konsekuensi besar, berupa peningkatan beban penyakit kronis, kebutuhan perawatan jangka panjang dan ketergantungan terhadap keluarga dan sistem kesehatan. Berbeda dengan mayoritas negara maju yang sudah memiliki sistem kesehatan geriatri yang baik, sebagian besar lansia di Indonesia masih tinggal bersama keluarga dan bergantung pada dukungan informal, sehingga pemahaman keluarga mengenai kesehatan lansia menjadi sangat penting.
Kondisi yang sering luput disadari adalah bahwa lansia jarang sekali hanya mengalami satu masalah kesehatan. Beberapa masalah yang muncul bersamaan dan saling berkaitan dikenal sebagai sindrom geriatri. Sindrom geriatri sendiri adalah kumpulan berbagai kondisi klinis yang sering terjadi pada lansia, tidak spesifik hanya pada satu organ, dan biasanya disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Kondisi ini berdampak besar pada kemandirian dan kualitas hidup lansia. Beberapa sindrom geriatri utama meliputi:
1. Frailty (Kerentanan Fisik)
Frailty adalah kondisi lansia yang menjadi sangat rentan terhadap stres ringan, seperti infeksi ringan atau jatuh, serta penurunan kapasitas cadangan fungsional yang membuatnya sulit untuk kembali ke kondisi tubub optimal. Ciri-ciri frailty antara lain:
- Mudah lelah
- Kekuatan otot menurun
- Berat badan menurun tanpa sebab jelas
- Aktivitas fisik sangat terbatas
2. Jatuh dan Risiko Cedera
Jatuh adalah masalah besar pada lansia dan sering dianggap sepele. Padahal, jatuh dapat menyebabkan:
- Patah tulang (terutama tulang belakang, paha, dan lengan bawah)
- Cidera kepala
- Penurunan kepercayaan diri dan ketakutan untuk beraktivitas
3. Gangguan Kognitif dan Demensia
Penurunan daya ingat ringan sering dianggap normal pada lansia, tetapi bila berlanjut dapat berkembang menjadi demensia. Lansia dengan demensia memiliki ciri :
- Mudah lupa pada hal-hal yang baru terjadi
- Sulit mengurus diri sendiri
- Adanya perubahan perilaku, seperti menjadi lebih diam atau cinderung marah-marah
4. Inkontinensia (Sulit Menahan BAK/BAB)
Lansia menjadi lebih sulit untuk menahan buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Masalah ini sering tidak dilaporkan karena rasa malu dari lansia. Padahal kondisi BAK/BAB yang berkelanjutan dapat menyebabkan infeksi saluran kemih berulang, gangguan tidur, dan isolasi sosial
5. Malnutrisi
Lansia rentan mengalami kekurangan gizi akibat nafsu makan menurun, masalah gigi dan gangguan menelan, serta adanya penyakit kronis. Malnutrisi mempercepat penurunan kesehatan fisik dan memperburuk penyakit lain.
6. Polifarmasi (Terlalu Banyak Obat)
Banyak lansia mengonsumsi lima obat atau lebih setiap hari, atau kadang mendapat obat yang tidak diperlukan. Kombinasi obat yang tidak tepat dapat menyebabkan kondisi pusing (dizziness) yang mempermudah risiko jatuh, gangguan ginjal, serta interaksi obat yang tidak diharapkan.
Sindrom geriatri ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik lansia, tetapi juga menurunkan kemandirian, meningkatkan ketergantungan pada keluarga, meningkatkan biaya perawatan, meningkatkan risiko burnout pada keluarga/caregiver yang mengurus, serta menurunkan kualitas hidup lansia. Tanpa pemahaman dan penanganan yang tepat, lansia dapat mengalami penurunan daya kesehatan yang cepat dan permanen. Padahal, banyak sindrom geriatri yang dapat dicegah atau diperbaiki bila dikenali sejak dini.
Perawatan lansia idealnya harus bersifat holistic atau menyeluruh, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, keluarga/caregiver, dan lansia itu sendiri, yang meliputi:
- Penilaian secara komprehensif, mulai dari kemampuan fisik, kondisi mental, status gizi, status kemandirian, dan kondisi sosial
- Pemberian dan pengaturan obat dilakukan secara hati-hati
- Latihan fisik sesuai dan teratur untuk meningkatkan massa otot, minimal 3 kali per minggu selama masing-masing 30 menit
- Nutrisi yang adekuat, terutama cukup protein
- Pemberian suplementasi vitamin D
- Lingkungan tempat tinggal dan komunitas yang aman dan nyaman
Menua adalah proses alami, tetapi menua dengan kondisi tidak sehat dan ketergantungan bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Dengan pemahaman yang baik tentang sindrom geriatri, masyarakat dapat membantu lansia menjalani usia senja yang lebih sehat, mandiri, dan bermartabat. Kesehatan lansia adalah cerminan kepedulian sebuah bangsa terhadap generasi yang telah membangun masa kini.
Referensi
- World Health Organization (WHO). Ageing and Health, 2022
- Badan Pusat Statistik (BPS). Statistik Penduduk Lanjut Usia Indonesia, 2023
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia, 2020
- American Geriatrics Society.
Created by Burhan Gunawan, MD
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!