Mengenal Sindrom Geriatri dan Pengaruhnya pada Populasi Lanjut Usia di Indonesia

Indonesia sedang memasuki era penduduk menua (aging population), dimana 12% dari total penduduk sudah lanjut usia (berusia di atas 60 tahun) pada tahun 2023, dan pada tahun 2045 diperkirakan jika satu dari lima orang adalah usia lanjut (lansia). Penuaan adalah proses alami yang memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh, seperti :

  • Otot yang melemah, massa tulang berkurang, dan massa lemak meningkat
  • Fungsi penglihatan dan pendengaran menurun
  • Daya tahan tubuh melemah
  • Fungsi otak dan kecepatan berpikir melambat
  • Kualitas dan kuantitas tidur terganggu

Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi lansia yang tinggi masih memiliki berbagai tantangan, meliputi:

  • Akses layanan geriatri yang masih terbatas
  • Kurangnya tenaga kesehatan terlatih di bidang geriatri
  • Minimnya edukasi keluarga mengenai perawatan lansia
  • Stigma bahwa penurunan fungsi diatas adalah “hal biasa” dan tidak perlu ditangani

Peningkatan jumlah lansia ini kemudian membawa konsekuensi besar, berupa peningkatan beban penyakit kronis, kebutuhan perawatan jangka panjang dan ketergantungan terhadap keluarga dan sistem kesehatan. Berbeda dengan mayoritas negara maju yang sudah memiliki sistem kesehatan geriatri yang baik, sebagian besar lansia di Indonesia masih tinggal bersama keluarga dan bergantung pada dukungan informal, sehingga pemahaman keluarga mengenai kesehatan lansia menjadi sangat penting.

Kondisi yang sering luput disadari adalah bahwa lansia jarang sekali hanya mengalami satu masalah kesehatan. Beberapa masalah yang muncul bersamaan dan saling berkaitan dikenal sebagai sindrom geriatri. Sindrom geriatri sendiri adalah kumpulan berbagai kondisi klinis yang sering terjadi pada lansia, tidak spesifik hanya pada satu organ, dan biasanya disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Kondisi ini berdampak besar pada kemandirian dan kualitas hidup lansia. Beberapa sindrom geriatri utama meliputi:

  1. Frailty (Kerentanan Fisik)

Frailty adalah kondisi lansia yang menjadi sangat rentan terhadap stres ringan, seperti infeksi ringan atau jatuh, serta penurunan kapasitas cadangan fungsional yang membuatnya sulit untuk kembali ke kondisi tubub optimal. Ciri-ciri frailty antara lain:

  • Mudah lelah
  • Kekuatan otot menurun
  • Berat badan menurun tanpa sebab jelas
  • Aktivitas fisik sangat terbatas
  1. Jatuh dan Risiko Cedera

Jatuh adalah masalah besar pada lansia dan sering dianggap sepele. Padahal, jatuh dapat menyebabkan:

  • Patah tulang (terutama tulang belakang, paha, dan lengan bawah)
  • Cidera kepala
  • Penurunan kepercayaan diri dan ketakutan untuk beraktivitas
  1. Gangguan Kognitif dan Demensia

Penurunan daya ingat ringan sering dianggap normal pada lansia, tetapi bila berlanjut dapat berkembang menjadi demensia. Lansia dengan demensia memiliki ciri :

  • Mudah lupa pada hal-hal yang baru terjadi
  • Sulit mengurus diri sendiri
  • Adanya perubahan perilaku, seperti menjadi lebih diam atau cinderung marah-marah
  1. Inkontinensia (Sulit Menahan BAK/BAB)

Lansia menjadi lebih sulit untuk menahan buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB). Masalah ini sering tidak dilaporkan karena rasa malu dari lansia. Padahal kondisi BAK/BAB yang berkelanjutan dapat menyebabkan infeksi saluran kemih berulang, gangguan tidur, dan isolasi sosial

  1. Malnutrisi

Lansia rentan mengalami kekurangan gizi akibat nafsu makan menurun, masalah gigi dan gangguan menelan, serta adanya penyakit kronis. Malnutrisi mempercepat penurunan kesehatan fisik dan memperburuk penyakit lain.

  1. Polifarmasi (Terlalu Banyak Obat)

Banyak lansia mengonsumsi lima obat atau lebih setiap hari, atau kadang mendapat obat yang tidak diperlukan. Kombinasi obat yang tidak tepat dapat menyebabkan kondisi pusing (dizziness) yang mempermudah risiko jatuh, gangguan ginjal, serta interaksi obat yang tidak diharapkan.

Sindrom geriatri ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik lansia, tetapi juga menurunkan kemandirian, meningkatkan ketergantungan pada keluarga, meningkatkan biaya perawatan, meningkatkan risiko burnout pada keluarga/caregiver yang mengurus, serta menurunkan kualitas hidup lansia. Tanpa pemahaman dan penanganan yang tepat, lansia dapat mengalami penurunan daya kesehatan yang cepat dan permanen. Padahal, banyak sindrom geriatri yang dapat dicegah atau diperbaiki bila dikenali sejak dini.

Perawatan lansia idealnya harus bersifat holistic atau menyeluruh, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan, keluarga/caregiver, dan lansia itu sendiri, yang meliputi:

  • Penilaian secara komprehensif, mulai dari kemampuan fisik, kondisi mental, status gizi, status kemandirian, dan kondisi sosial
  • Pemberian dan pengaturan obat dilakukan secara hati-hati
  • Latihan fisik sesuai dan teratur untuk meningkatkan massa otot, minimal 3 kali per minggu selama masing-masing 30 menit
  • Nutrisi yang adekuat, terutama cukup protein
  • Pemberian suplementasi vitamin D
  • Lingkungan tempat tinggal dan komunitas yang aman dan nyaman

Menua adalah proses alami, tetapi menua dengan kondisi tidak sehat dan ketergantungan bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Dengan pemahaman yang baik tentang sindrom geriatri, masyarakat dapat membantu lansia menjalani usia senja yang lebih sehat, mandiri, dan bermartabat. Kesehatan lansia adalah cerminan kepedulian sebuah bangsa terhadap generasi yang telah membangun masa kini.

Referensi

  1. World Health Organization (WHO). Ageing and Health, 2022
  2. Badan Pusat Statistik (BPS). Statistik Penduduk Lanjut Usia Indonesia, 2023
  3. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia, 2020
  4. American Geriatrics Society.

Created by Burhan Gunawan, MD

 

Apa yang terjadi saat tubuh mengalami Resistensi Antibiotik?

Antibiotik adalah jenis obat yang digunakan untuk menangani infeksi berupa bakteri. Antibiotik yang digunakan secara tidak tepat, misalnya digunakan untuk mengobati infeksi berupa virus atau jamur, bakteri justru malah akan berkembang biak dan menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan, tidak tepat waktu, dan tidak sesuai dengan indikasi medis berpotensi menyebabkan resistensi antimikroba. Akibatnya, infeksi pada pasien menjadi bertambah parah dan dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan bahwa resistensi antimikroba telah menjadi ancaman besar dengan data global pada tahun 2019 menunjukkan 1,2 juta kematian disebabkan oleh bakteri yang resisten terhadap antimikroba. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebuah studi memprediksi bahwa tanpa pengendalian yang efektif, akan ada 10 juta kematian per tahun pada tahun 2050.

Beberapa contoh bakteri resisten adalah sebagai berikut:

  • Enterococcus yang resisten terhadap vankomisin yang dikenal sebagai VRE. VRE dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan infeksi luka operasi.
  • Mycobacterium tuberculosis yang resisten terhadap banyak obat yang dikenal sebagai MDR-TB. Hal ini menjadi tantangan serius dalam pengobatan tuberkulosis.
  • Escherichia coli (E. coli) yang merupakan bakteri yang sering menyebabkan infeksi saluran kemih dan sepsis ini menunjukkan resistensi terhadap beberapa antibiotik umum.
  • Klebsiella pneumoniah yang merupakan salah satu bakteri paling sering ditemukan pada infeksi nosokomial dan infeksi lain, seperti pneumonia dan infeksi aliran darah.
  • Pseudomonas aeruginosa yang merupakan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada berbagai bagian tubuh, sering kali resisten terhadap banyak obat antibiotik.
  • Neisseria gonorrhoeae yang merupakan penyebab penyakit gonore, bakteri ini hampir selalu resisten terhadap penisilin yang dulu sering digunakan.

Apa saja gejala yang muncul saat tubuh mengalami resistensi antibiotik?

  • Demam yang muncul berulang
  • Diare melebihi 3 hari
  • Mual dan muntah
  • Batuk dan sesak napas
  • BAB berdarah
  • Frekuensi buang air kecil menurun
  • Kelelahan
  • Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas

Bagaimana cara mendiagnosa seseorang terkena resistensi antibiotik?

  • Dokter akan melakukan anamnesa terlebih dahulu terhadap pasien, kemudian dokter dapat mengarahkan pasien.
  • Tes kultur darah. Tes ini berupa pengambilan sampel dari area yang terinfeksi seperti cairan tubuh (darah, urin, dahak), usapan (tenggorokan, hidung), atau jaringan akan diambil dan dikirim ke laboratorium. Saat di laboratorium, bakteri akan ditumbuhkan (kultur) untuk diidentifikasi jenisnya.
  • Uji sensitivitas antibiotik. Setelah bakteri diidentifikasi, bakteri tersebut akan terpapar dengan berbagai antibiotik di laboratorium untuk melihat antibiotik mana yang efektif. Hasil tes ini menunjukkan apakah bakteri resisten atau masih dapat dibasmi oleh antibiotik tertentu.
  • Tes berbasis DNA. Dokter mungkin menggunakan metode molekuler seperti PCR untuk mendeteksi gen resistensi secara lebih cepat (tergantung kasus).
  • Pemeriksaan tambahan seperti tes tes urin mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi bakteri.

Bagaimana jika ternyata seseorang terkena resistensi antibiotik? Dokter dapat meresepkan antibiotik jenis lain yang sesuai dengan infeksi bakteri atau dalam beberapa kasus, dokter mungkin akan meresepkan kombinasi beberapa jenis antibiotik atau obat lain untuk mengatasi bakteri yang resisten.

Bagaimana cara mencegah resistensi antibiotik?

  • Menggunakan antibiotik secara bijak dengan mengonsumsi antibiotik hanya atas resep dokter dan sesuai dengan aturan dan resep yang telah diinstruksikan oleh dokter. Habiskan antibiotik tersebut walau pun gejala sudah membaik.
  • Tidak berbagi antibiotik dengan orang lain.
  • Menjaga kebersihan dengan mencuci tangan sebelum makan atau setelah menggunakan toilet.
  • Menjaga kebersihan bahan makanan dan simpan di tempat yang aman dan higenis.
  • Hindari kontak langsung dengan orang yang sedang terpapar infeksi.
  • Menjalani vaksinasi.

#GunakanAntibiotikSecaraBijak
#CegahResistensiAntibiotik
#RSSumberWaras
#SehatBersamaSumberWaras

Review by: dr. Pratiwi

 

Yuk, Kenali 2 Jenis Diabetes Biar Tidak Salah Kaprah!

Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula di dalam darah. Glukosa memang merupakan sumber energi utama bagi tubuh kita, namun pada penderita diabetes, glukosa tidak dapat digunakan oleh tubuh secara efektif.

Glukosa yang tidak diserap oleh sel – sel tubuh dengan baik akan menumpuk di dalam darah sehingga menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Jika diabetes tidak ditangani dengan baik, diabetes dapat menimbulkan berbagai komplikasi seperti kerusakan saraf mata yang dapat berujung kebutaan, kerusakan ginjal yang dapat berujung gagal ginjal, kerusakan saraf, penyakit kardiovaskuler seperti penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah, struk, serangan jantung, gagal jantung, rentan terhadap infeksi kulit dan kaki yang membuat luka sulit untuk sembuh dan mudah terinfaksi sehingga dapat berujung pada amputasi.

Banyak orang beranggapan bahwa Diabetes adalah penyakit yang disebabkan oleh turunan, padahal genetik bukan satu – satunya penyebab dari Diabetes. Banyak juga yang langsung beranggapan bahwa jika seseorang terkena diabetes, itu pasti disebabkan oleh faktor gaya hidup yang buruk. Faktanya, gaya hidup yang buruk memang menjadi salah 1 penyebab dari Diabetes, namun tidak semua penderita diabetes disebabkan oleh faktor gaya hidup yang buruk.

Ada 2 jenis diabetes yang perlu kamu ketahui agar tidak salah paham lagi, ya!

  • Diabetes Tipe 1

Pada penderita diabetes tipe 1, sel – sel beta di pankreas mengalami kerusakan, sehingga tubuh tidak dapat memproduksi insulin yang berakibat sel – sel tubuh tidak dapat mengambil gula dari darah sehingga kadar gula darah meningkat. Penyebab utama diabetes tipe 1 adalah penyakit autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang dan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas sehingga insulin tidak diproduksi. faktor resiko diabetes tipe 1 ini sangat erat dengan genetik dan penyakit autoimun sehingga tidak bisa dicegah dengan gaya hidup sehat, namun gaya hidup sehat tetap sangat penting untuk mengelola kondisi ini sehingga mencegah kondisi semakin memburuk dan dalam upaya mengontrol kadar gula darah. Gejala diabetes tipe 1 ini biasanya muncul secara tiba-tiba dan berkembang cepat dalam beberapa minggu. Diabetes tipe 1 dapat dikelola dengan pemberian suntikan insulin yang dibutuhkan seumur hidup karena tubuh tidak dapat memproduksi insulin lagi.

  • Diabetes Tipe 2

Pada penderita diabetes tipe 2, sel – sel tubuh menjadi kurang sensitif terhadap hormon insulin, meskipun produksi dan kadar hormon insulin normal sehingga tubuh menjadi resisten terhadap insulin dan pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk mengatasi resistensi ini. Penyebab utama diabetes tipe 2 berhubungan erat dengan gaya hidup tidak sehat seperti sering mengonsumsi makanan olahan dan tinggi gula, obesitas, kurang aktivitas fisik, serta kombinasi antara faktor gaya hidup yang tidak sehat dengan usia dan riwayat diabetes dalam keluarga. Gejala diabetes tipe 2 ini biasanya muncul secara bertahap selama bertahun – tahun dan seringkali tidak disadari pada tahap awal. Diabetes tipe 2 dapat dikelola dengan perubahan pola makan, olahraga rutin, penurun berat badan, dan obat-obatan. Dalam beberapa kasus, pengelolaan diabetes tipe 2 mungkin memerlukan insulin.

  • Bagaimana cara mencegah diabetes?

Untuk diabetes tipe 1, kondisi ini tidak dapat dicegah karena berhubungan erat dengan genetik dan penyakit autoimun, namun gaya hidup sehat tetap sangat penting untuk mengelola kondisi ini sehingga mencegah kondisi semakin memburuk dan dalam upaya mengontrol kadar gula darah.

Untuk diabetes tipe 2, kondisi ini dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, kurangi asupan gula dan karbohidrat berlebih, berolahraga rutin, menjaga berat badan ideal, minum air putih sekitar 25 – 30ml/berat badan, kelola stres dan tidur yang cukup, serta lakukan pemeriksan gula darah secara berkala.

#RSSumberWaras
#SehatBersamaSumberWaras

Review by: dr. Pratiwi

 

Generasi Sehat, Masa Depan Hebat

“Generasi Sehat, Masa Depan Hebat” adalah tema dari Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang ke-61 tahun 2025 ini. Hal ini menekankan pentingnya kesehatan sejak dini sebagai fondasi untuk membangun generasi Indonesia yang produktif dan tangguh di masa depan. Tema ini bertujuan untuk mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menerapkan gaya hidup sehat demi mencapai Indonesia Emas 2045.

Mewujudkan “Generasi Sehat, Masa Depan Hebat” membutuhkan kombinasi upaya yang dimulai dari peran individu, keluarga, lingkungan dan masyarakat serta pemerintah.

Peran Individu.

  • Menjaga pola makan dengan membiasakan makan makanan bergizi seimbang, perbanyak sayur dan buah, serta kurangi makanan dan minuman manis serta tinggi lemak jenuh.
  • Aktif secara fisik dengan melakukan olahraga secara teratur, minimal 30 menit per hari atau 150 menit per minggu.
  • Jaga kebersihan diri dan lingkungan.
  • Istirahat dan tidur yang cukup untuk meningkatkan kemampuan otak, hindari begadang.
  • Kelola stress dan jaga kesehatan mental.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala ke fasilitas kesehatan dan jangan tunda pemeriksaan hingga sakit parah.

Peran Keluarga.

  1. Orang tua harus menjadi contoh yang baik terhadap anak dalam pola makan, olahraga, dan kebersihan.
  2. Orang tua menciptakan rutinitas keluarga yang sehat seperti makan bersama tanpa gadget, menetapkan jam tidur teratur, dan kegiatan berolahraga bersama.
  3. Komunikasi 2 arah untuk membangun lingkungan keluarga yang hangat dan sehat secara mental.

Peran Lingkungan dan Masyarakat

    1. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar dengan rutin mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan.
    2. Membentuk komunitas-komunitas di antara masyarakat yang mendukung hidup sehat.
    3. Mengadakan kegiatan-kegiatan menyenangkan yang mendukung kesehatan masyarakat seperti kegiatan lomba memasak makanan bergizi seimbang, senam diabetes bersama, dan senam untuk lansia.

Peran Pemerintah

  • Melakukan persebarkan informasi gizi dan kesehatan melalui program edukasi yang menargetkan ibu hamil, orang tua, dan masyarakat umum.
  • Menciptakan program-program yang mendukung kesehatan seperti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat , imunisasi rutin, Posyandu remaja, dan lain-lain.
  • Pemerintah menyediakan akses layanan kesehatan yang berkualitas tersedia dan mudah dijangkau.
  • pemerintah memperkuat kebijakan publik yang mendukung kesehatan dan mencegah penyakit sejak dini.

#GenerasiSehat
#MasaDepanHebat
#RSSumberWaras
#SehatBersamaSumberWaras
Review by: dr. Pratiwi

5 Tanda Pria Perlu Periksa Prostat!

Penyakit prostat merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi pada pria, terutama pada usia 50 tahun ke atas. Walau pun penyakit ini bukan penyakit menular seksual, akan tetapi penyakit ini mengganggu kesehatan organ intim pria.

Seiring bertambahnya usia pada pria, ukuran prostat yang awalnya seukuran kacang kenari tumbuh berubah menjadi. Hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan pada pria.

Secara umum, ada 3 jenis penyakit prostat yaitu:

  1. Prostatitis. Prostatitis adalah peradangan pada kelenjar prostat. Hal ini sering disebabkan oleh infeksi bakteri dari saluran kemih.
  2. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH). BPH adalah pembesaran prostat yang bersifat jinak non kanker. Hal ini biasanya terjadi pada pria dengan usia lebih tua. Penyakit ini dapat menghambat aliran urin.
  3. Kanker Prostat. Kanker prostat adalah kondisi di mana sel – sel abnormal di prostat tumbuh tidak terkendali dan membentuk tumor ganas.

Penyakit prostat yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyebaran kanker (metastasis), abses pada prostat, munculnya batu pada kantung kemih, ketidakmampuan dalam menahan urin  sehingga menyebabkan kebocoran urin, dan gangguan fungsi ginjal.

Berikut 5 Tanda Pria Perlu Segera Periksa Postat!

1. Sering buang air kecil terutama di malam hari
2. Adanya darah di dalam urin
3. Aliran urine melemah, tersendat, atau rasa tidak tuntas setelah buang air kecil
4. Muncul rasa nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil
5. Nyeri pada punggung bawah, pinggul, dada atau nyeri pada saat ejakulasi

Jika kamu mengalami gejala-gejala di atas, jangan dibiarkan begitu saja, ya! Segera periksakan ke dokter untuk dilakukan evaluasi medis terkait gejala yang kamu alami.

#RSSumberWaras
#SehatBersamaSumberWaras

Review by: dr Pratiwi

 

Apa Itu TB?
TB atau Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Kuman ini menyerang tubuh manusia, terutama paru-paru. TB bukan penyakit keturunan, bukan pula disebabkan oleh kutukan atau guna-guna. Etika cara batuk yang benar juga harus diterapkan agar kita sama-sama peduli dengan sekitar.

 

Diet Untuk Anak Dengan Berat Badan Kurang
Tanamkan sejak usia dini kebiasaan makan yang baik untuk memelihara tumbuh kembang anak.

 

Diet Untuk Ibu Menyusui
Asi Eksklusif meningkatkan daya tahan tubuh dan kecerdasan bayi. Penuhi hak setiap bayi untuk mendapatkan manfaat ASI sejak dini.

 

Diet Tinggi Serat
Diet Tinggi Serat adalah adalah pengaturan jenis makanan dalam makanan sehari-hari agar serat makanan dapat tercukupi sehingga proses pencernaan dapat berjalan lancar.

 

Diet Tinggi Kalori dan Protein
Diet Tinggi Kalori dan Protein adalah pengaturan jumlah dan jenis makanan yang mengandung kalori dan protein dalam jumlah banyak yang dimakan setiap hari untuk meningkatkan status gizi dan membantu proses pemulihan dari suatu penyakit.

 

Diet Rendah Garam
Diet rendah garam adalah diet yang diberikan kepada pasien dengan hipertensi. Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah seseorang diatasnormal. Tekanan darah normal orang dewasa biasanya mencapai rata-rata 120/80, 100/60 sampai 140/90 mmhg.

 

Diet Makanan Sehat Untuk Lanjut Usia
Setiap orang berhak untuk tetap sehat dan produktif di usia lanjut. Gizi menjadi peran penting dalam mempertahankan kesehatan dan mencegah penyakit.

 

Anda Memiliki Riwayat Penyakit Stroke?
Bingung cara mengatur asupan yang dibutuhkan?
Yuk kita pelajari bersama asupan makanan yang dianjurkan dan tips menariknya

 

Manajemen Nyeri Pada Luka Pasca Operasi
Nyeri Pasca Operasi adalah suatu reaksi tubuh akibat operasi, mulai dari sayatan kulit, tarikan pada organ dalam tubuh, akibat proses operasi.

 

Apa itu PLDD? Pada Nyeri Punggung Bawah
PLDD merupakan prosedur suntikan menggunakan metode laser pada nyeri punggung bawah yang biasanya disebabkan oleh HNP (hernia nukleus pulposus) derajat ringan sedang.
Prosedur ini dilakukan pada kasus kasus kronis, dimana pasien telah menjalani fisioterapi dan konsumsi
obat nyeri namun nyeri masih kerap muncul. Nyeri yang terjadi mengganggu kualitas hidup seseorang.

 

Apa itu Prosedur Artroskopi Pada Sendi?
Artroskopi merupakan suatu prosedur menggunakan kamera kecil yang bisa dimasukkan pada sendi untuk mengobati berbagai macam penyakit diantaranya cedera ligamen dan bantalan lutut (meniskus) akibat olahraga, robekan otot bahu maupun pada kasus frozen shoulder pada bahu.

 

Apa itu Radiofrekuensi?
Untuk Nyeri Punggung Bawah dan Lutut Akibat Pengapuran
Radiofrekuensi merupakan suatu prosedur blok dari saraf nyeri menggunakan metode ablasi pada area lutut maupun punggung. Dilakukan pada pasien dengan radang sendi kronis (osteoarthritis) yang telah menjalani fisioterapi dan mengkonsumsi obat nyeri namun nyeri masih kerap muncul.

 

Apa itu Endoskopi BESS, PSLD, PELD?
Tindakan minimal invasif menggunakan alat endoskopi untuk mengatasi masalah tulang belakang dengan minimal sayatan <1cm, teknik bedah atau operasi menggunakan alat berupa selang kecil dilengkapi kamera (teknik endoskopi) dan alat bedah khusus. Sebelumnya prosedur pada saraf terjepit dilakukan dengan operasi terbuka (konvensional), setelah endoskopi berkembang operasi terbuka lebih jarang dilakukan pada kasus saraf terjepit. Endoskopi tulang belakang telah sangat berkembang di Indonesia, termasuk di RS Sumber Waras yang telah rutin mengerjakan prosedur ini. Prosedur ini dilakukan pada kasus saraf terjepit yang bisa tejadi pada punggung. Saraf terjepit sendiri merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi di masyarakat yang disebabkan oleh faktor usia, postur, pekerjaan dan sebagainya.

 

Anda Penderita Diabetes?
Berikut Beberapa Tips Edukasi Yang Perlu Anda Ketahui!
Bagi penderita Diabetes, lebih banyak kemungkinan timbulnya gangguan peredaran darah pada kaki bagian atas dan bawah.
Penderita Diabetes harus merasa perlu untuk merawat kakinya secara baik. Merawat kaki dengan cermat dan memilih sepatu yang sesuai dapat mencegah gangguan serius yang biasa timbul pada penderita Diabetes.

 

 


Berat Badan Jangan Berlebih


Jangan Khawatirkan Menoupause


Infeksi Telinga


Bincang Sehati “Batuk Rejan, Gejala Dan Pengobatannya”


Bincang Sehati “Bedah Bariatrik Cara Aman Mengatasi Obesitas Dan Penyakit Degeneratif Akibat Obesitas”

 


Bincang Sehati “Pentingnya Menjaga Kesehatan Jiwa”

 


Bincang Sehati “Cara Aman Puasa Penderita Maag”

 


Bincang Sehati “Waspada Gagal Jantung”

 


Dunia Sehat “Penyakit Orang Kantoran”

 


Bincang Sehati “Manfaat Sirkumsisi”